<img height="1" width="1" src="https://www.facebook.com/tr?id=763856411650746&amp;ev=PageView &amp;noscript=1">
Akuntansi

Memahami Perbedaan Beban Penyusutan dan Akumulasi Penyusutan

Hitung-hitungan akuntansi perusahaan kerap memperlihatkan perbedaan beban penyusutan dan akumulasi penyusutan. Simak penjelasannya.


Ada dua istilah yang kerap muncul ketika bicara tentang penyusutan dalam konteks kegiatan usaha atau produksi, yaitu beban penyusutan dan akumulasi penyusutan. Meski berasal dari hal yang sama, namun keduanya merupakan dua konsep yang berbeda. Secara akuntansi pun diperlakukan lain. Lalu, apa perbedaan beban penyusutan dan akumulasi penyusutan? 

Pertanyaan tersebut bisa terjawab ketika masing-masing konsep dijelaskan satu per satu. Dan itu yang akan dibicarakan dalam artikel ini. Namun, sebelum itu, tentu harus dipahami terlebih dulu apa maksud penyusutan itu sendiri.  

Sebuah perusahaan pastilah memiliki beragam aset. Salah satu jenis aset tersebut, namanya aset tetap atau aktiva tetap (fixed assets), nilainya akan menurun karena faktor usia. Ada masanya itu akan rusak atau tak lagi berfungsi meski secara bentuk masih sama seperti saat dibeli. Inilah makna sederhana dari penyusutan. 

Sementara dari sudut pandang akuntansi, penyusutan atau depresiasi adalah entri yang mewakili pengurangan biaya aset selama masa manfaatnya.

Perbedaan beban penyusutan dan akumulasi penyusutan hanya dapat dipahami ketika pertama-tama kita mengetahui betul apa saja bentuk aset tetap–yang merupakan objek pembahasan. Aset tersebut adalah tanah, gedung, mesin, dan peralatan-peralatan. Dari semua jenis aset tersebut, hanya tanah yang tak mengalami penyusutan. Nilai tanah justru akan semakin menjangkau langit. 

Beban Penyusutan

Menurut Kamus Collins, beban penyusutan adalah biaya penggunaan aset yang dikeluarkan untuk mendapatkan pendapatan selama periode berjalan. Makna beban dalam akuntansi memang demikian, yaitu pengorbanan ekonomis. Hanya saja, bedanya, beban penyusutan tidak memerlukan pengeluaran kas.

Tentu nilai penyusutan tidak bisa ditetapkan dengan asal-asalan. Ada rumus untuk menghitungnya. Dalam hal ini, meski terdapat perbedaan beban penyusutan dan akumulasi penyusutan, namun cara menghitungnya sama. 

Untuk dapat menghitung beban maupun akumulasi penyusutan, maka ada beberapa faktor yang harus diketahui terlebih dulu, yaitu harga perolehan aset, taksiran umur aset, dan taksiran nilai sisa. 

Harga perolehan adalah semua pengeluaran untuk menerima manfaat dari aset tersebut. Taksiran umur aset adalah seberapa lama aset tersebut bisa dipakai atau digunakan manfaatnya (misal 10 tahun untuk mesin). Lalu taksiran nilai sisa atau nilai residu, yaitu nilai sebuah aset setelah umur pemanfaatannya selesai (Cara menghitungnya akan kita bahas lebih lanjut di bagian berikutnya). 

Dalam akuntansi, perbedaan beban penyusutan dan akumulasi penyusutan juga terlihat jelas dari cara penyajiannya. Beban penyusutan disajikan dalam laporan laba rugi, sementara akumulasi penyusutan di neraca. 

Contoh laporan laba rugi adalah sebagai berikut:

PT ABC

Laporan Laba Rugi

31 Januari 2021

Pendapatan:

   

Pendapatan jasa

 

1.600.000

Beban operasional:

   

Beban gaji

800.000

 

Beban penyusutan

200.000

 

Total beban operasional

 

(1.000.0000)

Pendapatan bersih

 

600.000

 

Beban–tak hanya beban penyusutan–mengurangi pendapatan. Makin besar beban akan semakin berkurang pendapatan. Jika keduanya dihitung, akan terlihat selisih laba rugi sebuah perusahaan (apakah selama setahun berjalan perusahaan mengalami untung, atau justru defisit). 

(Baca: Biaya Penyusutan: Definisi, Rumus, hingga Cara Mencatatnya)

Akumulasi Penyusutan

Lalu bagaimana dengan akumulasi penyusutan? Apa perbedaan beban penyusutan dan akumulasi penyusutan?

Mengutip Investopedia, sementara beban penyusutan adalah jumlah yang telah disusutkan selama satu periode, akumulasi penyusutan merupakan total penyusutan aset perusahan. Dengan kata lain, akumulasi penyusutan adalah himpunan atau gabungan dan penyusutan-penyusutan. Nilai dari akumulasi penyusutan adalah total dari beban penyusutan yang dicatat setiap tahun atau per periode. 

Oleh karena itu, pada akhir tahun pertama aset dipakai, besarnya akumulasi penyusutan akan sama dengan besarnya beban penyusutan. Sementara pada akhir periode kedua, nilai akumulasi penyusutan adalah beban penyusutan tahun pertama dan tahun kedua; begitu seterusnya. 

Perbedaan beban penyusutan dan akumulasi penyusutan berikutnya adalah, seperti yang tadi sudah disinggung, yang satu muncul di laporan laba rugi sebagai beban sementara yang lain di neraca sebagai aset aset kontra. Namun, perlu ditegaskan lagi bahwa keduanya sama-sama membantu menyatakan nilai asli dari aset. 

Akun akumulasi penyusutan mengurangi nilai perolehan aset tetap dan menghasilkan total nilai buku aset. Ilustrasi penyajiannya di neraca sebagai berikut: 

PT ABC

Neraca

31 Januari 2021

Aset lancar:

Kas

Account receivable


Aset tetap:

Bangunan

Akumulasi penyusutan


5.000.000

1.000.000



9.000.000

(500.000)

Kewajiban:

Account payable




Ekuitas:

Modal pemilik


2.000.000





10.000.000

Total aset

14.500.000

Kewajiban dan Ekuitas

12.000.000

 

Perbedaan beban penyusutan dan akumulasi penyusutan selanjutnya adalah beban penyusutan terus dikreditkan terhadap aset, dan ketika aset tersebut akhirnya dijual atau sudah tidak lagi dipakai, akumulasi penyusutan akan dibalik, dalam arti semua catatan aset dari neraca perusahaan akan dihilangkan. 

(Baca: Panduan Memahami dan Menghitung Akumulasi Penyusutan)

Menghitung Beban dan Akumulasi Penyusutan

depresiasi

 

Photo by Nick Youngson Picpedia.org

Memahami terhadap perbedaan beban penyusutan dan akumulasi penyusutan tak berarti apa-apa ketika kita tidak mengetahui cara menghitungnya. Hanya dengan memahami formulanya-lah beban penyusutan dan akumulasi penyusutan ada manfaatnya bagi keuangan perusahaan. 

Di atas telah disinggung bahwa untuk mengetahui nilai penyusutan pertama-tama haruslah diketahui harga perolehan aset, taksiran umur aset, dan taksiran nilai sisa. Setelah itu kemudian barulah dihitung dengan rumus tertentu. 

Salah satu rumus terpopuler dalam menghitung penyusutan adalah metode garis lurus. Dalam hal ini, harga perolehan dikurangi dengan taksiran nilai residu lalu hasilnya dibagi estimasi umur manfaat (yaitu sekian tahun). Dari sana akan terlihat jelas perbedaan beban penyusutan dan akumulasi penyusutan. 

rumus menghitung penyusutan

Contoh kasus: harga perolehan kendaraan Rp 60 juta,  taksiran nilai residu nol, dan estimasi umur manfaat 5 tahun. Maka besar penyusutannya adalah Rp 12 juta. 

Tahun

Beban penyusutan

Akumulasi penyusutan

Nilai buku

0

   

60,000.000

1

12.000.000

12.000.000

48.000.000

2

12.000.000

24.000.000

36.000.000

3

12.000.000

36.000.000

24.000.000

4

12.000.000

48.000.000

12.000.000

5

12.000.000

60.000.000

0

Dengan metode ini beban penyusutan merata setiap tahun sampai usia manfaat aset habis. Ada pula rumus yang membuat beban penyusutan berbeda tiap tahun karena memasukkan variabel jumlah unit produksi. 

Kesimpulan

Demikianlah penjelasan tentang perbedaan beban penyusutan dan akumulasi penyusutan. Satu hal terakhir yang harus diingat adalah, penyusutan harus dialokasikan secara rasional dan sistematis agar sesuai prinsip akuntansi. Jika ditetapkan asal-asalan, maka itu akan berpengaruh terhadap perhitungan beban pokok produksi atau penjualan (penyusutan merupakan salah satu unsur overhead pabrik yang merupakan biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja). Bisa saja harga jual lebih rendah dari biaya produksi yang berarti perusahan pasti merugi. 

Similar posts

Stay up to date with Spenmo

Sign up to get the latest news, updates, and special offers delivered directly to your mailbox