<img height="1" width="1" src="https://www.facebook.com/tr?id=763856411650746&amp;ev=PageView &amp;noscript=1">
Manajemen Pengeluaran

Cara Menghitung THR Prorata yang Benar

Pastikan perusahaan tahu cara menghitung THR prorata yang benar. Bila keliru, bisa terjadi masalah ketenagakerjaan yang menghambat usaha.


Setiap kali menjelang hari raya, perusahaan pasti disibukkan dengan persiapan membayar tunjangan hari raya (THR) kepada karyawan. Sesuai dengan aturan pemerintah, pemberian THR adalah kewajiban perusahaan kepada karyawan. THR diberikan sesuai dengan masa kerja setiap karyawan. Jadi bila belum bekerja selama setahun pun seorang karyawan tetap berhak menerima THR asalkan dia sudah bekerja minimal 1 bulan secara terus-menerus. Karena itu, ada yang namanya pemberian THR secara prorata.

Pegawai bagian keuangan harus tahu cara menghitung THR prorata yang benar agar tidak menimbulkan masalah ketenagakerjaan. Kekeliruan atau bahkan kelalaian perusahaan dalam kewajiban pemberian THR kepada pegawai bisa berbuah sanksi dari pemerintah.

Apa Itu THR

Tunjangan hari raya adalah hak karyawan berupa uang yang wajib diberikan pemberi kerja menjelang perayaan hari agama tertentu setahun sekali sesuai dengan agama yang dipeluk karyawan tersebut. Bagi karyawan yang beragam Islam, THR diberikan menjelang Idul Fitri. Karyawan Kristen Katolik/Protestan mendapat THR untuk Natal. Pegawai beragama Hindu beroleh THR menjelang Nyepi. Karyawan Buddha menerima THR sebelum Waisak. Adapun buruh penganut Konghucu memperoleh THR menjelang Imlek.

Jadi sebuah perusahaan bisa menyiapkan pembayaran THR hingga enam kali dalam setahun jika karyawannya memeluk agama yang berbeda-beda. Namun, berdasarkan peraturan, pemberian THR bisa pula tak didasari hari raya agama yang dianut karyawan. Misalnya seorang pegawai beragama Katolik boleh mendapat THR menjelang Lebaran alih-alih Natal. Namun saat Natal dia tak diberi THR lagi. Untuk menggunakan metode pembayaran THR ini, harus ada kesepakatan antara perusahaan dan karyawan yang dicatat dalam peraturan kerja bersama.

THR diberikan kepada karyawan yang minimal sudah bekerja selama satu bulan tanpa putus. Jumlah THR yang diberikan adalah sebesar satu bulan upah yang diterima karyawan. Definisi upah dalam THR di sini bergantung pada peraturan perusahaan yang disepakati karyawan. Umumnya, upah yang menjadi dasar penghitungan THR berupa gaji pokok saja atau bisa juga gaji pokok plus tunjangan tetap.

Semua karyawan yang memenuhi syarat masa kerja berhak menerima THR terlepas dari statusnya. Pekerja perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT/kontrak), perjanjian kerja waktu tidak tertentu (PKWTT/tetap), pekerja harian, asisten rumah tangga, pekerja honorer, tenaga alih daya (outsourcing), semuanya berhak mendapat THR. Pemberian THR disesuaikan dengan kondisi pekerja tersebut. Bila mereka belum genap setahun bekerja, tinggal pakai cara menghitung THR prorata. Bila upahnya harian, pakai cara menghitung THR berdasarkan rata-rata upah yang diterima dalam setahun terakhir atau tiap bulan selama masa kerja.

(Baca: Cara Menghitung Gaji Karyawan Menurut Statusnya)

Dasar Hukum Pembayaran THR Karyawan

  Ada sejumlah peraturan yang menjadi dasar hukum pembayaran THR karyawan, termasuk:

  • Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang tercakup dalam omnibus law Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja
  • Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan
  • Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan

Sejumlah peraturan itu juga didukung oleh surat edaran dari Menteri Tenaga Kerja yang menjadi dasar aturan pemberian THR pada tahun tertentu. Pada 2022, misalnya, Menteri Tenaga Kerja mengeluarkan Surat Edaran Nomor M/1/HK.04/IV/2022 tentang Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya Keagamaan Tahun 2022 Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.

Surat edaran itu ditujukan kepada kepala daerah sebagai panduan untuk memastikan semua pekerja di tiap daerah menerima hak THR sepenuhnya. Adapun aturan dan cara menghitung THR prorata termaktub dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016.

cara menghitung thr prorata

Photo by: Mohamad Trilaksono

(Baca: Jurnal Pembayaran Gaji Karyawan: Cara Membuat dan Contohnya

Cara Menghitung THR Prorata

Berdasarkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016, pekerja yang sudah bekerja minimal setahun berhak menerima satu kali upah sebulan. Sedangkan pekerja yang masa kerjanya lebih dari satu bulan tapi belum sampai 12 bulan, THR diberikan secara proporsional atau prorata.

Rumus cara menghitung THR prorata yang benar sesuai dengan aturan adalah:

Masa kerja : 12 bulan x 1 bulan upah

Sebagai contoh, Siska baru bekerja selama 3 bulan ketika menjelang hari raya Idul Fitri. Siska menerima gaji total sebesar Rp 20.000.000 yang terdiri atas gaji pokok Rp 15.000.000 dan tunjangan tetap serta tidak tetap Rp 5.000.000.

Siska sendiri adalah pemeluk agama Islam. Maka, berdasarkan hukum, Siska berhak menerima THR sebelum Idul Fitri. Peraturan perusahaan menyatakan jumlah THR yang diberikan adalah sebesar gaji pokok satu bulan. Lantas berapakah jumlah THR yang diterima Siska?

Masa kerja = 3 bulan

THR (gaji pokok) = Rp 15.000.000

Cara menghitung THR prorata untuk Siska:

3 bulan : 12 bulan x Rp 15.000.000 = Rp 3.750.000

Jadi, dengan masa kerja 3 bulan, Siska berhak menerima THR sebesar Rp 3.750.000 secara prorata.

Umumnya penghitungan masa kerja sebelum 12 bulan dilakukan dengan cara pembulatan. Misalnya bila tanggal masuk kerja jika dihitung dari tanggal hari raya adalah 3 bulan 3 hari. Maka masa kerjanya dibulatkan menjadi 3 bulan. Yang juga patut diketahui adalah bila pekerja yang masa kerjanya belum genap 12 bulan tapi sudah resign atau terkena pemutusan hubungan kerja 31 hari atau lebih sebelum hari raya, dia tak berhak menerima THR. Jika dia resign atau kena PHK 30 hari sebelum hari raya, dia masih berhak mendapat THR.

Misalnya tanggal Idul Fitri adalah 3 Mei 2022. Siska memutuskan resign pada 30 Maret 2022. Berarti ada jarak 31 hari lebih antara waktu resign Siska dan tanggal hari raya sehingga perusahaan tak wajib memberikan THR kepada Siska. Sedangkan bila Siska resign pada 15 April 2022, perusahaan harus menggunakan cara menghitung THR prorata untuk membayar THR kepada Siska.

Penghitungan hingga pembayaran gaji atau upah serta THR akan lebih mudah bila menggunakan platform manajemen pengeluaran seperti Spenmo. Pegawai bagian keuangan tinggal memasukkan data penggajian ke aplikasi ini, lalu penghitungan bisa dilakukan secara otomatis. Tak perlu pula bingung soal cara menghitung THR prorata kepada karyawan yang belum genap 12 bulan bekerja. Pembayaran THR ke rekening karyawan pun bisa dijadwalkan sesuai dengan ketentuan untuk menghindari sanksi dari Kementerian Ketenagakerjaan.

Nikmati proses payroll bebas biaya. Coba Sekarang

Similar posts

Stay up to date with Spenmo

Sign up to get the latest news, updates, and special offers delivered directly to your mailbox