<img height="1" width="1" src="https://www.facebook.com/tr?id=763856411650746&amp;ev=PageView &amp;noscript=1">
account payable

Perbedaan Account Payable dan Account Receivable dalam Bisnis

Account payable dan account receivable adalah dua istilah yang sering kita dengar dalam bisnis. Apa perbedaannya? Simak di sini.


Account payable dan account receivable adalah dua istilah yang sering kita temukan dalam laporan keuangan. Account payable merupakan utang usaha atau utang dagang, sedangkan account receivable merupakan piutang usaha.

Kedua akun ini memiliki fungsi yang berlawanan dalam sistem akuntansi perusahaan. Account payable dicatat sebagai bagian dari kewajiban lancar, sedangkan account receivable dicatat sebagai bagian dari aset lancar. Artinya, nilai yang tercatat dalam account payable mencerminkan uang yang akan dikeluarkan perusahaan dalam waktu dekat, sementara nilai account receivable mencerminkan uang yang akan diterima perusahaan.

Account payable dan account receivable kerap disandingkan dalam analisa keuangan untuk mengukur tingkat likuiditas perusahaan. Idealnya, bisnis yang sehat memiliki jumlah piutang yang lebih besar atau paling tidak seimbang dibandingkan dengan jumlah utang sehingga likuiditasnya tetap terjaga.

Jadi apa perbedaan antara account payable dan account receivable? Sederhananya, account payable adalah uang yang akan keluar dari perusahaan, sedangkan account receivable adalah uang yang akan masuk ke perusahaan.

Account payable adalah

Aktivitas jual beli dan utang-piutang merupakan hal yang umum kita temukan dalam kegiatan usaha. Kegiatan inilah yang kemudian menciptakan perputaran uang bagi bisnis atau cash flow (arus kas) perusahaan. 

Dalam laporan keuangan, posisi utang-piutang bisnis dapat kita lihat di akun account payable dan account receivable. Mari kita pahami lebih dulu soal account payable yang mencerminkan utang perusahaan.

Pos utang usaha bisa kita temukan di bagian kewajiban lancar dalam laporan neraca. Angka ini menunjukkan jumlah utang perusahaan kepada pihak ketiga, baik itu supplier, bank, vendor, atau individu sekalipun. Suatu utang bisa dicatat sebagai account payable jika tagihan atau invoice sudah diterima oleh perusahaan. Biasanya, tagihan-tagihan ini jatuh tempo dalam waktu kurang dari satu tahun.

Dalam pencatatannya, akuntan akan mengkredit akun utang usaha dan mendebit akun pembelian ketika invoice diterima. Ketika tagihan dibayar, akuntan akan mendebit akun utang usaha untuk mengurangi saldo kewajiban dan mengkredit pos kas perusahaan sehingga saldo kas pun berkurang.

Karena sifatnya utang, account payable hanya muncul ketika perusahaan melakukan transaksi pembelian secara kredit atau dengan sistem pembayaran uang muka. Jika perusahaan membeli kebutuhan langsung dengan uang tunai, maka transaksi tersebut tidak akan tercatat dalam account payable

Account payable sangat penting untuk dikelola dan dimonitor dengan baik oleh pemilik bisnis. Akun ini berfungsi sebagai salah satu indikator kelancaran arus kas karena menunjukkan jumlah utang jangka pendek yang harus segera dilunasi oleh perusahaan. 

Jika jumlahnya meningkat dari periode sebelumnya, berarti perusahaan banyak membeli kebutuhan operasional secara kredit tapi lambat dalam membayar tagihan. Sebaliknya, jika jumlahnya menurun, berarti perusahaan melunasi kewajiban lebih cepat dibandingkan melakukan pembelian barang atau jasa secara kredit.

Pengelolaan akun utang yang buruk tak hanya bisa berdampak kepada turunnya likuiditas perusahaan, tetapi juga bisa membuat kegiatan operasional terhambat. Sebab, tertundanya pembayaran pihak ketiga bisa mengakibatkan supplier atau vendor enggan untuk bekerja sama dengan perusahaan di masa depan.

(Baca: Account Payable atau Utang Dagang: Definisi, Fungsi, dan Prosesnya)

Account receivable adalah

account payable dan account receivable adalah

Account receivable adalah kebalikan dari account payable. Akun ini mewakili jumlah piutang atau uang yang belum dibayar oleh pihak ketiga kepada perusahaan. Singkatnya, jika dalam account payable perusahaan berperan sebagai debitur, dalam account receivable perusahaan berperan sebagai kreditur atau pihak yang memberikan utang.

Akun piutang dicatat di bawah aset lancar dalam laporan neraca perusahaan. Artinya, jumlah uang yang tercatat di dalamnya diprediksi akan diterima oleh perusahaan dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.

Piutang usaha muncul dari penjualan yang dilakukan oleh perusahaan secara kredit atau dengan sistem pembayaran uang muka di awal. Dalam pembukuan, piutang akan dicatat saat perusahaan telah mengirim invoice penagihan kepada pihak ketiga, bukan saat pesanan masuk.

Berbeda dengan account payable yang bisa terbagi lagi ke dalam beberapa kategori-seperti utang penjualan, utang pajak, dan utang bunga-account receivable hanya memiliki satu akun, yakni piutang usaha. Piutang lain, seperti piutang pajak tidak dimasukkan ke dalam akun ini karena dihitung sebagai beban perusahaan.

Lebih lanjut, ada tiga ciri utama suatu transaksi atau piutang dikategorikan sebagai account receivable, yaitu:

  1. Ada nilai jatuh tempo: terdiri dari nilai transaksi dan nilai bunga.

     

  2. Ada tanggal jatuh tempo: menunjukkan tanggal pembayaran yang telah ditentukan atau tanggal perusahaan menagih kepada pihak ketiga. Jika pihak tertagih lalai membayar sesuai tanggal tersebut, maka ada denda yang akan dikenakan.

     

  3. Ada umur jatuh tempo: biasanya harian atau bulanan.

     

Dalam akuntansi, akun piutang memiliki akun kontra (offset) yang disebut cadangan piutang ragu-ragu atau tak tertagih (allowance of doubtful debts). Fungsinya sebagai pengurang jumlah piutang atas perkiraan piutang yang tidak bisa ditagih. Dengan membuat akun kontra ini, maka beban piutang tak tertagih tidak akan mempengaruhi langsung laporan laba rugi perusahaan.  

Sama seperti account payable, account receivable juga penting untuk dikelola dan dimonitor dengan baik oleh pelaku usaha. Akun ini menunjukkan potensi uang yang akan diterima oleh perusahaan dalam waktu dekat, sehingga dapat mempengaruhi likuiditas dan kegiatan operasional ke depan.

Pengelolaan akun piutang yang buruk tak hanya bisa menimbulkan krisis likuiditas, tapi juga berisiko terhadap hilangnya salah satu sumber pemasukan perusahaan. Misalnya, karena tim keuangan lalai menagih piutang ke salah satu customer atau lupa memasukkan nilai denda keterlambatan dalam tagihan, maka pemasukan yang diterima perusahaan pun jadi berkurang atau bahkan hilang.

Perbedaan account payable dan account receivable adalah

Setelah mengetahui pengertian serta fungsi dari akun utang dan piutang dalam keuangan perusahaan, kini mari kita kupas satu-persatu perbedaannya melalui tabel berikut ini.

Perbedaan utama account payable dan account receivable adalah: 

Perbedaan

Account Payable

Account Receivable

Definisi

Jumlah uang harus dibayar perusahaan kepada pihak ketiga.

Jumlah uang yang harus diterima oleh perusahaan dari pihak ketiga.

Posisi dalam laporan neraca

Tercatat di bawah kewajiban lancar dalam neraca.

Tercatat di bawah aset lancar dalam neraca.

Pengurang/ akun kontra (offset)

Tidak ada.

Cadangan atau penyisihan piutang tak tertagih.

Jenis akun

Utang penjualan, utang bunga, utang pajak, dll

Piutang usaha.

Jenis transaksi

Pembelian barang/jasa secara kredit.

Penjualan barang/jasa secara kredit

Dampak kepada arus kas

Kas keluar

Kas masuk

Aksi yang ditimbulkan

Membayar invoice

Menagih invoice

Peran perusahaan

Debitur

Kreditur

Kesimpulan

Account payable dan account receivable adalah akun dalam laporan keuangan yang mencerminkan jumlah uang yang akan dikeluarkan dan diterima perusahaan dalam waktu dekat. Dua akun ini ibarat dua sisi mata uang yang masing-masing mewakili kewajiban dan hak perusahaan dalam transaksi bisnis. Mengelola dan memonitor kedua akun tersebut sangatlah penting untuk mengetahui likuiditas keuangan dan kesehatan finansial perusahaan.

Similar posts

Stay up to date with Spenmo

Sign up to get the latest news, updates, and special offers delivered directly to your mailbox